Budidaya bioflok ikan lele adalah salah satu cara budidaya ikan lele. Banyak yang belum mengetahui cara beternak lele dengan sistem bioflok, padahal hasil panen yang dihasilkan bisa jauh lebih banyak dibandingkan dengan sistem budidaya konvensional. Secara sederhana, budidaya lele sistem bioflok mengandalkan pertumbuhan mikroorganisme untuk mengelola limbah budidaya lele sehingga berubah menjadi flok.
Flok tersebut dapat dimanfaatkan kembali sebagai pakan lele alami. Meskipun modal yang diperlukan untuk bioflok lele lebih besar, Anda dapat menghemat biaya pakan dan meningkatkan hasil panen. Untuk penjelasan lebih detail, berikut ini penjelasan seputar budidaya ikan lele bioflok.
Pengertian Sistem Bioflok
Budidaya ikan lele bioflok adalah budidaya lele yang menggunakan metode pengubahan senyawa organik dan anorganik menjadi sludge dengan mengandalkan mikroorganisme atau bakteri pembentuk flok. Bioflok yang dimaksud dapat berbentuk campuran mikroba seperti protozoa, plankton, dan fungi. Selain itu, bioflok juga dapat ditemukan dalam bentuk polimer organik, partikel, koloid, dan kaiton yang berinteraksi di dalam air.
Untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dalam air, Anda bisa menggunakan cara kultur bakteri yang berasal dari nonpatogen atau probiotik dengan aerator sebagai penyuplai oksigen di dalam kolam bioflok lele. Flok yang dihasilkan bisa digunakan kembali sebagai pakan alami untuk ikan lele, sehingga Anda bisa menghemat biaya pakan lele. Sistem bioflok pada lele sudah banyak dilakukan di beberapa negara maju, seperti Jepang dan Australia.
Manfaat dan Keunggulan Sistem Bioflok untuk Budidaya Ikan Lele
Sistem budidaya lele bioflok diklaim lebih menguntungkan dibandingkan cara budidaya konvensional, meskipun membutuhkan sedikit tambahan modal. Metode ini disebut mampu menghasilkan jumlah panen lebih banyak, hingga 2 kali lipat, dibandingkan cara konvensional.
Selain itu, Anda dapat menghemat biaya pakan karena ketersediaan pakan alami yang berlimpah. Dengan berkurangnya jumlah pakan buatan yang ditebar, kualitas kolam bioflok lele terjaga dan lebih ramah lingkungan.
Terdapat berbagai manfaat dan keunggulan lainnya dari sistem bioflok untuk budidaya ikan lele, di antaranya adalah:
– Kualitas air kolam lebih terjaga.
– pH air lebih stabil.
– Limbah di dalam kolam jadi sedikit dan lebih ramah lingkungan.
– Kotoran air dikonversi menjadi bakteri sebagai pakan alami lele.
– Kadar amonia di dalam kolam bisa ditekan.
– Tidak perlu sering mengganti air kolam, karena mengganti air kolam justru merusak biosekuriti kolam.
– Hemat lahan budidaya.
– Budidaya bisa dilakukan tanpa cahaya matahari.
– Padat tebar bisa mencapai 3.000 ekor per m3.
Kelemahan Sistem Bioflok Ikan Lele
Meskipun terlihat mudah dan menguntungkan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika ingin berbudidaya dengan sistem bioflok. Faktor utama keberhasilan budidaya lele sistem bioflok adalah dengan mengandalkan aerator sebagai penyuplai oksigen. Aerator harus berjalan terus-menerus setiap hari.
Bila aerator berhenti, ada risiko terjadinya endapan bahan organik di dasar kolam. Endapan tersebut dapat mempengaruhi tingkat keasaman air. Oleh karena itu, aerator harus terus menyala. Kekurangan lainnya adalah bioflok lele tidak dapat diterapkan pada kolam tambak yang bocor karena rembesan air tersebut bisa mengancam biosekuriti kolam.
Anda perlu melakukan pemeriksaan rutin pada air untuk mengetahui apakah terdapat amonia atau nitrit. Selain itu, bila jumlah flok di dalam kolam terlalu pekat, ikan lele dapat mengalami kematian massal secara bertahap karena kadar oksigen rendah.
Cara Budidaya Ikan Lele dengan Sistem Bioflok
Pembahasan selanjutnya adalah langkah-langkah yang perlu dilakukan agar budidaya lele bioflok bisa sukses. Cermati dan pahami langkah-langkah budidaya ikan lele bioflok berikut ini.
1. Pembuatan Kolam Bioflok Lele
Untuk memulai budidaya lele menggunakan sistem bioflok, Anda hanya perlu menyiapkan kolam terpal dengan ukuran kolam 1-3 m3. Ukuran kolam sekitar 1 m3 dapat menampung hingga 1.000 ekor ikan lele. Jumlah tersebut relatif tinggi dan bisa membawa keuntungan lebih banyak.
Biaya pembuatan kolam terpal juga terbilang murah dan tidak terlalu memakan banyak tempat. Untuk membuat kolam tersebut berdiri kokoh, Anda dapat menggunakan besi atau bambu sebagai kerangka kolam. Di bagian dasar kolam, Anda perlu membuat sistem pipa sebagai jalur keluarnya kotoran lele. Kemudian, buat pula sistem pipa agar saat kotoran tersebut teralirkan keluar, ada proses penambahan air ke dalam bioflok agar kolam tidak kering.
Kotoran yang keluar tersebut akan diolah kembali menjadi pupuk organik atau sebagai pakan alami. Buatlah atap di bagian atas kolam supaya air hujan atau sinar matahari tidak langsung mengenai kolam. Air hujan dan sinar matahari yang masuk langsung mengenai kolam dapat mengganggu kualitas air. Terakhir, pasang aerator sebagai alat untuk menyuplai oksigen.
2. Persiapan Air Kolam
Setelah kolam bioflok lele berdiri kokoh, Anda dapat mengisi kolam dengan air bersih hingga ketinggian 80-100 cm. Lalu, tebarkan probiotik dengan dosis tertentu untuk dua hari ke depan.
Berikut ini uraian dosis yang dibutuhkan:
– Hari kedua: Taburkan probiotik dengan dosis 5 ml/m3.
– Hari ketiga: Taburkan probiotik atau pakan probiotik dalam bentuk molase atau tetes tebu sebanyak 250 ml/m3. Lalu di malam hari, taburkan dolomit sebanyak 150-200 gram/m3. Di hari selanjutnya, diamkan kolam selama 7-10 hari agar mikroorganisme di dalamnya dapat tumbuh dengan baik. Di hari ke sebelas, tebarkan benih ikan lele.
3. Penebaran Benih Lele
Selanjutnya, tebarkan benih lele yang telah dipersiapkan. Namun, ada beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan dalam pemilihan benih ini, di antaranya:
– Benih berasal dari indukan berkualitas unggul.
– Benih memiliki pergerakan aktif.
– Benih dalam keadaan sehat dengan organ yang lengkap.
– Benih memiliki bentuk yang proporsional dengan ukuran 4-7 cm.
– Bentuk, ukuran, dan warna benih harus seragam. Jika benih sudah ditebar di dalam kolam, maka taburkan probiotik kembali di hari selanjutnya sebanyak 5 ml/m3.
4. Pemberian Probiotik Tambahan
Saat proses pembesaran benih lele, Anda perlu memberikan probiotik tambahan sebelum ukuran lele mencapai 12 cm. Berikan probiotik tambahan dengan dosis 5 ml/m3, ragi tempe dengan takaran 1 sendok makan per m3, ragi tape 2 butir/m3, dan dolomit di malam hari dengan dosis 200-300 gram/m3 setiap 10 hari sekali. Jika lele sudah mencapai ukuran 12 cm dan lebih, maka pemberian ragi tempe mulai ditambah.
Berikan probiotik dengan dosis 5 ml/m3, ragi tempe 3 sendok makan/m3, ragi tape sebanyak 6-8 butir/m3, dan dolomit sebanyak 200-300 gram/m3 di malam hari. Sebelum dimasukkan ke dalam kolam, ragi tempe dan tape perlu dilarutkan terlebih dulu di dalam air.
5. Pemberian Pakan
Meskipun flok hasil olahan limbah lele bisa dijadikan pakan alami, Anda tetap perlu mempersiapkan pakan lainnya, namun dengan jumlah dosis yang lebih sedikit dari biasanya. Pastikan pakan lele mengandung nutrisi yang baik untuk pertumbuhan ikan lele, dengan ukuran pakan yang sesuai dengan ukuran mulut lele.
Berikan pakan lele di pagi dan sore hari dengan dosis sebesar 80%. Namun, karena ada pakan alami untuk lele di sistem bioflok ini, dosis pakan bisa dikurangi hingga 30%. Pakan yang akan diberikan kepada lele sebaiknya difermentasi terlebih dulu dengan probiotik.
****
Subscribe, follow @dramatizencom dan ikuti terus dramatizen.com untuk berbagai inspirasi terbaru dan agar hari harimu makin seru!

