Parameter Kualitas Air Tambak Lengkap dan Cara Menjaganya


848


Parameter Kimia

Parameter kimia meliputi pH, DO, salinitas, amonia, nitrit, nitrat, alaklinitas, dan TOM. Berikut merupakan beberapa kendala dan penyebab yang umum ditemukan di masing-masing parameter:
Sumber: Dramatizen.com

1. pH

Permasalahan pH pada umumnya terbagi menjadi 3, yaitu:
– Jika pH tinggi dan terjadi drop plankton, maka segera lakukan siphon untuk mengurangi limbah organik. Namun jika pH tinggi dan dominan BGA (Blue Green Algae), maka jaga keseimbangan plankton dan usahakan dominan plankton cokelat/diatom.
– Jika pH rendah, maka segera lakukan siphon dasar dan treatment penambahan bakteri nitrifikasi. Jika pH rendah karena indikasi drop plankton, segera lakukan siphon dasar dan jaga keseimbangan plankton dengan menambahkan pupuk untuk menumbuhkan kembali plankton.
– Jika fluktuasi pH masih berada di range pH <0,2, Petambak bisa memaksimalkan operasional kincir, menjaga pertumbuhan plankton yang optimal, mengurangi probiotik dan material penunjang probiotik (bahan organik seperti molase/tetes). Namun, jika fluktuasi pH berada di kisaran pH >0,5 karena plankton terlalu pekat, segera lakukan pengenceran, siphon dan aplikasi kaptan.
– Sedangkan, jika fluktuasi pH terjadi karena dominan BGA, maka geser dominansi BGA dengan diatom melalui pemberian kaptan di pagi hari dan mendorong pertumbuhan diatom di sore hari dengan pupuk phospat serta nitrat dosis rendah setiap hari.

2. DO (Dissolved Oxygen) atau Oksigen Terlarut

Apabila DO rendah <4, maka optimalkan kincir dan lakukan penambahan kincir. Jika estimasi carrying capacity tidak mendukung (udang terlalu padat dalam 1 kolam), maka lakukan panen parsial untuk mengurangi kepadatan udang dan lakukan pengecekan pakan harian karena adanya potensi overfeeding serta akumulasi bahan organik yang berakibat terjadinya kompetisi oksigen di perairan.

3. Salinitas

Apabila salinitas rendah, keluarkan air tawar yang ada di permukaan tambak melalui pipa pembuangan di atas permukaan air dan naikkan salinitas perlahan dengan penambahan air laut.
Sedangkan, apabila salinitas tinggi tambahkan air tawar hingga ketinggian air mencapai ketinggian awal sebelum penguapan dan bisa juga dilakukan penggantian air dengan penambahan air tawar.

See also  6 Cara Pemijahan Ikan Gurame yang Mudah dan Pasti Sukses!

4. Amonia

Apabila amonia terlalu tinggi karena terjadi drop plankton segera lakukan siphon untuk membuang plankton mati yang mengendap secepatnya. Kemudian, tambahkan kaptan 5-10 ppm dan tebar probiotik dekomposer.
Jika ada indikasi overfeeding, kurangi pakan dan lakukan pengenceran. Namun, jika proses nitrifikasi terhambat, maka Anda bisa menambahkan bakteri nitrifikasi.

5. Nitrit dan Nitrat

Jika nitrit dan nitrat melebihi kadar optimal, lakukan siphon, kurangi pakan, pengenceran, tambahkan bakteri nitrifikasi, dan lakukan penggantian air.

6. Alkalinitas

Apabila alkalinitas rendah karena kekurangan kapur di awal persiapan tambak, maka lakukan pemberian dolomit rutin 5-10 ppm perhari. Namun, jika karena plankton tipis/sedikit sebaiknya ditumbuhkan dulu planktonnya hingga stabil.
Sedangkan jika alkalinitas rendah karena dasar tanah asam/gambut, lakukan pengeringan dan pengapuran yang cukup di masa persiapan lahan dan budidaya serta pemberian dolomit rutin untuk menjaga kestabilan plankton, sebanyak 5-10 ppm perhari.

7. TOM (Total Organic Matter) atau Bahan Organik

Peningkatan bahan organik akibat plankton drop, overfeeding, dan/atau kotoran udang dapat memicu pertumbuhan bakteri vibrio, blooming alga dan tingginya kandungan TAN dan fosfat.
Jika TOM tinggi akibat drop plankton, maka lakukan siphon untuk buang plankton mati yang telah mengendap secepatnya. Sedangkan jika ada indikasi overfeeding, lakukan siphon, kurangi pakan, dan pengenceran air.



****
Subscribe, follow @dramatizencom dan ikuti terus dramatizen.com untuk berbagai inspirasi terbaru dan agar hari harimu makin seru!