Dalam konteks ekonomi, ada sekelompok orang yang memiliki pekerjaan sendiri dan tidak mempekerjakan orang lain. Umumnya, kelompok ini termasuk dalam kelas menengah tinggi atau yang sering disebut sebagai borjuis. Borjuis ini juga dikenal sebagai pemilik modal. Konsep borjuis sebagian besar berasal dari pemikiran Karl Marx (1818-1883) dan mereka yang terpengaruh olehnya. Kelompok borjuis mulai tumbuh di Eropa pada abad ke-11 dan terutama selama zaman Renaisans abad ke-12, bersamaan dengan pertumbuhan exodus pertanian dan urbanisasi.
Sejarah kelompok borjuis bermula sebagai fenomena sejarah dan politik pada abad ke-11 ketika kota-kota kecil di Eropa Tengah dan Barat mulai berkembang menjadi pusat perdagangan. Perkembangan kota-kota ini dimungkinkan karena adanya konsentrasi ekonomi yang terjadi dengan munculnya organisasi mandiri yang melindungi dan membantu para pengusaha. Organisasi semacam ini muncul ketika individu-individu pengusaha seperti pengrajin dan pedagang melawan tuan tanah feodal mereka yang ingin memperoleh keuntungan lebih besar dari sewa yang telah disepakati sebelumnya.
Pada akhir Abad Pertengahan, sekitar tahun 1500 M, di bawah rezim monarki nasional awal di Eropa Barat, kelompok borjuis berperan demi kepentingan pribadi mereka dan secara politis mendukung raja atau ratu untuk melawan gangguan hukum dan keuangan yang disebabkan oleh keserakahan para penguasa feodal. Pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17, kelompok borjuis di Inggris dan Belanda menjadi kekuatan finansial dan politis yang berhasil menggulingkan sistem feodal. Kekuatan ekonomi berhasil mengalahkan kekuatan militer dalam ranah politik.
Selama abad ke-17 dan ke-18, kelompok borjuis merupakan kelas sosial yang progresif secara politis. Mereka mendukung prinsip pemerintahan konstitusional dan hak asasi manusia, serta melawan privilese hukum dan klaim-klaim kekuasaan dengan dalih hak ilahi yang digunakan oleh bangsawan dan gereja dalam sistem feodal. Pada abad ke-19, kelompok borjuis mengusung paham liberalisme dan berhasil memperoleh hak politik, hak kebebasan beragama, dan hak sipil bagi diri mereka sendiri dan juga bagi kelas sosial yang lebih rendah. Dengan demikian, kelompok borjuis menjadi kekuatan filosofis dan politik yang progresif dalam masyarakat Barat.
Setelah Revolusi Industri pada abad ke-18, pertengahan abad ke-19, terjadi ekspansi besar-besaran dalam kelompok borjuis. Hal ini menyebabkan stratifikasi dalam kelompok tersebut, baik berdasarkan aktivitas bisnis maupun fungsi ekonomi. Terdapat borjuis besar yang terdiri dari bankir dan industrialis, serta borjuis kecil yang terdiri dari pedagang dan pekerja kerah putih. Pada akhir abad ke-19, kaum kapitalis atau borjuis asli berhasil naik ke kelas atas, sementara perkembangan teknologi dan pekerjaan teknis memungkinkan kelas pekerja naik ke lapisan bawah kelompok borjuis. Namun, kemajuan sosial ini tidak terjadi secara sengaja.
Dalam konteks modern, kelompok borjuis masih memiliki peran yang signifikan dalam perekonomian dan struktur kelas sosial. Mereka sering kali menjadi pengusaha sukses, pemilik modal, dan memiliki akses yang lebih besar terhadap kesempatan dan sumber daya ekonomi. Kelompok borjuis juga sering kali memiliki kekuatan politik yang besar dan dapat mempengaruhi kebijakan ekonomi serta pembentukan undang-undang yang mengatur dunia bisnis. Meskipun memiliki kekuatan dan keuntungan ekonomi yang besar, borjuis juga sering menjadi sasaran kritik karena dianggap memanfaatkan keadaan untuk memperoleh keuntungan pribadi tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat secara keseluruhan.
Secara keseluruhan, kelompok borjuis memiliki sejarah yang panjang dan kompleks dalam perkembangan sosial dan ekonomi di Eropa. Mereka telah memainkan peran penting dalam transformasi sosial dan politik, serta dalam menciptakan struktur kelas yang ada saat ini.
****
Subscribe, follow @dramatizencom dan ikuti terus dramatizen.com untuk berbagai inspirasi terbaru dan agar hari harimu makin seru!

