SKU


794

Stock Keeping Unit, atau yang umumnya dikenal dengan akronim SKU, merupakan representasi dalam bentuk kode barcode yang dapat dipindai. Identifikasi ini sering kali terdapat pada label produk yang ditempatkan pada rak rak di berbagai toko ritel. Fungsi dari label SKU ini memberikan kemudahan bagi pihak vendor dalam melacak pergerakan persediaan secara otomatis.

SKU dibentuk melalui suatu kombinasi karakter alfanumerik, terdiri dari minimal delapan karakter atau lebih. Kombinasi karakter tersebut meliputi kode harga, rincian produk, serta informasi mengenai produsen.

Namun, penting untuk dicatat bahwa SKU juga berlaku bagi produk yang bersifat immaterial, namun tetap dapat di-tag, seperti durasi waktu perbaikan di bengkel atau layanan garansi mobil.

Penggunaan SKU pun dapat disesuaikan berdasarkan aspek toko, katalog, vendor e-commerce, penyedia layanan, gudang, maupun pusat pemenuhan produk, dengan tujuan untuk memonitor tingkat inventaris secara efisien.

SKU memiliki peran yang signifikan dalam proses manajemen persediaan. Terutama dalam mengidentifikasi kebutuhan stok ulang untuk setiap produk.

Sebagai contoh, saat pelanggan melakukan pembelian di titik penjualan (Point-of-Sale/POS), SKU akan di-scan dan sistem POS akan secara otomatis menghapus jumlah item yang dibeli dari inventaris, sambil mencatat data lainnya seperti harga jual.

Namun, perlu diingat bahwa SKU tidak seharusnya disamakan dengan nomor model produk. Meskipun sering kali nomor model diintegrasikan dalam SKU, tetapi konsepnya memiliki perbedaan mendasar.

Bisnis biasanya menciptakan berbagai SKU yang unik untuk mengelompokkan barang dan layanan yang mereka tawarkan.

Contoh SKU

Contoh konkritnya, sebuah toko yang menjual sepatu mungkin akan membentuk SKU internal yang mencerminkan rincian produk seperti warna, ukuran, gaya, harga, produsen, serta merek.

See also  Kartel

Berbagai fungsi terkait dengan SKU meliputi:

  1. Pembandingan Karakteristik Produk: SKU memberikan kemampuan bagi pembeli untuk membandingkan karakteristik dari produk yang serupa. Sebagai contoh, ketika seorang pembeli memilih untuk membeli DVD tertentu, pengecer daring bisa saja menampilkan film-film serupa yang telah dibeli oleh pelanggan lain berdasarkan informasi SKU. Pendekatan ini dapat mendorong pembelian tambahan, dengan demikian berdampak positif terhadap pendapatan perusahaan.
  2. Pengumpulan Data Penjualan: SKU memungkinkan pengumpulan data terkait penjualan yang sangat berharga. Data ini nantinya bisa dianalisis untuk memahami tren dan preferensi konsumen, serta membantu dalam mengatur stok dan strategi pemasaran.
  3. Peningkatan Efisiensi Berbelanja: Dalam konteks berbelanja, penggunaan SKU menghasilkan pengalaman yang lebih efisien. Sebagai contoh, dalam era sebelum adanya SKU, pencarian sepatu berdasarkan model dan ukuran harus dilakukan secara visual, menghabiskan waktu yang cukup lama. Namun, di era modern, banyak pengecer dilengkapi dengan pemindai portabel yang memungkinkan penjual untuk dengan mudah memeriksa stok di belakang toko hanya dengan memindai sampel lantai. Ini adalah salah satu contoh nyata dari bagaimana sistem SKU mengoptimalkan efisiensi berbelanja.

Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa penggunaan SKU memegang peranan vital dalam manajemen persediaan, pengalaman berbelanja yang lebih efisien, serta pengumpulan data yang relevan dalam aktivitas perdagangan dan bisnis modern.

****

Subscribe, follow @dramatizencom dan ikuti terus dramatizen.com untuk berbagai inspirasi terbaru dan agar hari harimu makin seru!