10 Ciri AHPND pada Udang, Ayo Kenali Lebih Dekat!


840

Salah satu permasalahan yang masih banyak dihadapi para Petambak adalah penyakit Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND). Penyakit ini dapat menyebabkan kerugian besar akibat kematian massal pada udang secara tiba-tiba, sehingga Petambak kerap ketakutan ketika menghadapi penyakit AHPND udang.
Penyebab penyakit AHPND adalah bakteri gram negatif bernama Vibrio parahaemolyticus yang mengandung plasmid pVPA1 yang dapat mengeluarkan toksin bernama PirA dan PirB yang merupakan faktor virulensi utama.
Agar Petambak tidak terlambat mengenali tanda penyakit AHPND yang menyerang udang di tambak, Anda perlu mengenali ciri-ciri udang yang sudah terjangkit penyakit ini agar bisa mengambil langkah penanganan dengan cepat dan tepat.

Apa itu Penyakit AHPND dan Apa Ciri-Cirinya?

Sebelum mengenali ciri-ciri penyakit AHPND pada udang, Anda perlu mengetahui apa itu penyakit AHPND atau Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease. AHPND adalah penyakit yang menyerang udang, menyebabkan organ pencernaan seperti usus tengah, hepatopankreas, dan lambung berwarna pucat/putih dan kosong. Penyakit yang awalnya dikenal sebagai Early Mortality Syndrome (EMS) dapat menyebabkan kematian hingga 100% jika tidak ditangani dengan tepat.
Agar tidak terlambat mengenali tanda penyakit AHPND yang menyerang udang di tambak, Anda perlu mengenali ciri-ciri udang yang sudah terjangkit penyakit ini agar bisa mengambil langkah penanganan dengan cepat dan tepat.

See also  Budidaya Ikan Kerapu: Prospek Bisnis dan Tips Suksesnya

Gejala/Tanda Klinis yang Muncul pada Udang yang Terkena AHPND

Ciri Makroskopis dan Mikroskopis Udang yang Terkena AHPND

Gambar 1. Kerusakan hepatopankreas secara mikroskopis pada Litopenaus vannamei pada setiap fase yaitu (a,b) fase awal; (c-f) fase akut; dan (g,h) fase terminal. Gambar 2. Udang sakit vs udang sehat. Gambar 3. Pengamatan mikroskopis saluran pencernaan L. vannamei yang terkena AHPND. (a) Udang yang sehat; (b) fase awal; (c,d) fase akut; (e) fase terminal.

Secara makroskopis, Anda dapat melihat bahwa infeksi penyakit AHPND udang akut pada Litopenaeus vannamei atau udang vaname menyebabkan usus tengah (MG), hepatopankreas (HP), dan lambung (ST) berwarna pucat/putih dan kosong (Gambar 2b). Kondisi ini sangat berbeda dengan kondisi udang vaname sehat, di mana ususnya sehat, penuh, dan saluran pencernaannya berwarna cokelat (Gambar 2a).
Berdasarkan kepadatan bakteri dan penampakan histologis, udang yang terkena AHPND dibagi menjadi tiga fase, yaitu (3a) fase awal, (3b) fase akut, dan (3c) fase terminal. Pada fase awal (Gambar 3b), udang menunjukkan tanda-tanda kerusakan di hepatopankreas. Selain itu, tidak ada makanan di sebagian atau seluruh bagian usus. Di fase awal infeksi ini, sel epitel memanjang dan ditemui adanya bakteri di saluran pencernaan. Selain itu, seiring perkembangan AHPND, ukuran sel R dan B hepatopankreas semakin berkurang (Gambar 1a-b).
Pada fase akut, udang yang terkena AHPND menunjukkan tanda-tanda lesu dan anoreksia (hilangnya nafsu makan), ditambah dengan saluran pencernaan yang kosong dan hilangnya pigmentasi jaringan (Gambar 3c). Hepatopankreas menjadi rusak dan tampak keputihan (Gambar 3d). Selain itu, terjadi pengelupasan/nekrosis pada sel epitel di tubulus hepatopankreas (Gambar 1c-d).
Menariknya, selama fase akut, tidak ada sel bakteri yang ada di jaringan yang terkena AHPND. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri penyebab AHPND mengeluarkan toksin yaitu PirA dan PirB yang mengikat dan menginduksi kerusakan signifikan pada sel epitel di hepatopankreas. Pada akhir fase akut ini, epitel mengalami nekrosis yang parah (Gambar 1e-f).
Pada fase terminal, sama seperti fase akut, udang mengalami anoreksia (hilangnya nafsu makan), lesu, memiliki saluran pencernaan yang kosong, dan hepatopankreas berhenti berkembang serta berwarna keputihan (Gambar 3e). Kerusakan jaringan sebagian besar dilakukan oleh toksin PirA dan PirB, serta replikasi bakteri di lokasi kerusakan yang disebabkan adanya infeksi bakteri sekunder oleh bakteri vibrio lainnya (vibriosis) (Gambar 1g-h).

See also  Siasat Pembesaran Ikan Bandeng Tercepat dan Terlengkap

Cara Mengatasi Penyakit AHPND pada Udang

Penanganan penyakit AHPND pada udang adalah sebuah tantangan yang memerlukan pendekatan yang tepat dan terukur. Setelah mengenali berbagai ciri dan tanda fisik yang mungkin muncul pada udang yang terkena penyakit ini, langkah-langkah konkret dalam mengatasi penyakit AHPND dapat dijalankan. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa diambil guna mengendalikan dan mengatasi penyakit AHPND pada udang:

1. Karantina dan Pengobatan

Langkah pertama yang penting adalah mengisolasi udang yang terinfeksi penyakit AHPND. Udang yang terlihat mengalami gejala harus segera dipisahkan dari populasi utama dan ditempatkan dalam wadah yang terpisah. Selanjutnya, konsultasikan dengan dokter hewan atau ahli perikanan untuk mendapatkan rekomendasi pengobatan yang sesuai.

2. Pembersihan Kolam dan Kandang

Membersihkan kolam dan kandang secara berkala merupakan tindakan penting dalam mengendalikan penyakit AHPND. Pastikan kolam dan kandang disterilkan dengan baik sebelum pengenalan udang yang sehat. Hal ini dapat membantu mencegah penyebaran penyakit.

3. Manajemen Kualitas Air

Kualitas air yang baik sangat penting untuk kesehatan udang. Pastikan parameter seperti suhu, salinitas, dan pH air berada dalam rentang yang sesuai untuk spesies udang yang dipelihara. Kualitas air yang buruk dapat memicu penyebaran penyakit dan memperburuk kondisi udang yang sudah terinfeksi.

4. Pemberian Pakan yang Berkualitas

Udang yang sehat dan memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat lebih mampu melawan infeksi penyakit. Berikan pakan yang seimbang dan berkualitas tinggi untuk mendukung kesehatan dan kekebalan tubuh udang.

5. Penggunaan Probiotik dan Prebiotik

Penggunaan probiotik dan prebiotik dalam pakan dapat membantu meningkatkan keseimbangan mikrobiota usus udang. Mikroorganisme baik ini dapat membantu melawan pertumbuhan patogen penyebab penyakit.

See also  Tips & Trik agar Pertumbuhan Ikan Lele Lebih Cepat

6. Konsultasi dengan Ahli

Penting untuk selalu berkomunikasi dengan ahli perikanan atau dokter hewan yang berpengalaman dalam mengatasi penyakit pada udang. Mereka dapat memberikan panduan yang spesifik berdasarkan situasi dan kondisi yang dihadapi.

7. Pengawasan Ketat

Lakukan pengawasan terhadap kesehatan dan perilaku udang secara berkala. Jika terdapat tanda-tanda penyakit, segera ambil tindakan pencegahan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.

Penanganan penyakit AHPND pada udang memerlukan perhatian serius dan tindakan yang tepat. Dengan melibatkan para ahli dan mengikuti langkah-langkah pengendalian yang sesuai, peluang untuk mengurangi dampak penyakit dan memulihkan kesehatan populasi udang menjadi lebih baik.

****
Subscribe, follow @dramatizencom dan ikuti terus dramatizen.com untuk berbagai inspirasi terbaru dan agar hari harimu makin seru!