Employee Turnover: Definisi, Jenis, Dampak Bagi Perusahaan


849

Berikut adalah beberapa Jenis Employee Turnover yang paling umum sering terjadi dalam perusahaan beserta penjelasan lengkapnya.

Apa itu Employee Turnover?

Employee turnover, atau perputaran karyawan, adalah kondisi di mana persentase karyawan yang meninggalkan sebuah perusahaan dalam periode waktu tertentu diukur. Turnover dapat dianggap sebagai parameter penting yang menggambarkan dinamika sumber daya manusia (SDM) suatu organisasi. Tingkat turnover yang tinggi atau rendah dapat memberikan indikasi terhadap sejumlah faktor di perusahaan, termasuk kebijakan perekrutan, kepuasan karyawan, dan lingkungan kerja.

Tingkat turnover karyawan adalah hasil dari perhitungan jumlah karyawan yang meninggalkan perusahaan selama periode tertentu, dibagi oleh jumlah total karyawan dalam periode yang sama, dan hasilnya dikalikan 100 untuk mendapatkan persentase. Pemantauan tingkat turnover ini penting karena tingkat yang tinggi bisa menjadi pertanda masalah dalam organisasi. Di sisi lain, tingkat turnover yang rendah bisa jadi menunjukkan stabilitas dan kepuasan dalam perusahaan.

Dampak Employee Turnover

Employee turnover dapat memiliki dampak signifikan pada perusahaan. Dalam beberapa kasus, pergantian karyawan mungkin menjadi hal yang positif, seperti ketika perusahaan memutuskan untuk melakukan restrukturisasi atau mengganti karyawan yang kurang produktif. Namun, dalam banyak kasus, turnover yang tinggi dapat menciptakan masalah berikut:

  1. Produktivitas Berkurang: Ketika karyawan pergi, perusahaan harus meluangkan waktu dan sumber daya untuk merekrut dan melatih pengganti mereka. Selama periode transisi ini, produktivitas bisa mengalami penurunan, terutama jika perusahaan kehilangan karyawan yang memiliki keterampilan khusus.
  2. Anggaran Rekrutmen yang Bertambah: Merekrut dan melatih karyawan baru memerlukan biaya. Biaya ini meliputi proses perekrutan, pelatihan, dan orientasi. Dengan tingkat turnover yang tinggi, perusahaan harus mengalokasikan lebih banyak anggaran untuk proses ini.
  3. Memperburuk Citra Perusahaan: Tingkat turnover yang tinggi dapat menciptakan citra negatif tentang perusahaan di mata karyawan yang tersisa dan calon karyawan. Ini dapat membuat perusahaan kesulitan menarik dan mempertahankan bakat terbaik di industri mereka.
See also  Mau Jadi Freelance Writer? Ini Cara Sukses Jadi Freelance Writer

4 Jenis Employee Turnover

Dalam dunia HR, employee turnover tidak hanya dilihat sebagai fenomena umum, tetapi juga bisa dibagi menjadi beberapa jenis yang dapat membantu perusahaan dalam mengidentifikasi penyebab dan mengambil tindakan yang sesuai. Berikut adalah empat jenis employee turnover yang paling umum:

1. Voluntary Turnover

Voluntary turnover atau pergantian sukarela terjadi ketika seorang karyawan secara sukarela memilih untuk meninggalkan perusahaan. Ini adalah jenis turnover yang seringkali dapat diprediksi karena karyawan memberikan pemberitahuan sebelumnya tentang kepergiannya. Beberapa alasan umum termasuk:

  • Bosan dengan Pekerjaan: Karyawan mungkin merasa bosan dengan pekerjaan mereka saat ini dan mencari tantangan baru.
  • Tidak Ada Jenjang Karir: Jika karyawan merasa tidak ada peluang untuk mengembangkan karir mereka di perusahaan, mereka mungkin mencari kesempatan di tempat lain.
  • Pindah Lokasi: Karyawan bisa pindah ke kota atau negara lain karena alasan pribadi atau keluarga.
  • Konflik dengan Rekan Kerja: Masalah interpersonal di tempat kerja bisa menjadi penyebab pengunduran diri.
  • Penerimaan Tawaran Pekerjaan Lain: Karyawan mungkin menerima tawaran pekerjaan yang lebih menarik dari perusahaan lain.

Voluntary turnover bisa menjadi pertanda baik jika karyawan yang pergi memiliki kinerja buruk atau tidak cocok dengan budaya perusahaan. Namun, jika karyawan yang berkinerja tinggi pergi, perusahaan harus melakukan introspeksi untuk mencari tahu penyebabnya.

2. Involuntary Turnover

Involuntary turnover atau pergantian yang tidak diinginkan terjadi ketika seorang karyawan dipaksa untuk meninggalkan perusahaan atau diberhentikan oleh perusahaan. Biasanya terjadi sebagai respons atas masalah performa atau pelanggaran kebijakan perusahaan. Beberapa alasan umum termasuk:

  • Buruknya Performa: Karyawan yang tidak memenuhi harapan dalam hal performa kerja mungkin akan dipecat.
  • Pelanggaran Kebijakan: Pelanggaran serius terhadap kebijakan perusahaan, seperti pelecehan atau pencurian, dapat mengakibatkan pemutusan hubungan kerja.
  • Strategi Perusahaan: Kadang-kadang, perusahaan melakukan restrukturisasi atau pengurangan karyawan sebagai bagian dari strategi bisnis mereka.
See also  Ketahui Pentingnya Feedback Karyawan untuk Perusahaan Semakin Maju

Involuntary turnover seringkali merupakan respons terhadap masalah yang perlu diatasi oleh perusahaan. Namun, perusahaan harus memastikan bahwa proses pemutusan hubungan kerja dilakukan secara adil dan sesuai dengan hukum yang berlaku.

3. Functional Turnover

Functional turnover terjadi ketika seorang karyawan yang memiliki kinerja rendah meninggalkan perusahaan. Dalam kasus ini, perusahaan biasanya akan merasa lega karena dapat menggantinya dengan karyawan yang lebih produktif. Beberapa alasan yang paling umum menjadi penyebab dari pergantian fungsional adalah buruknya performa karyawan selama bekerja atau komplain yang datang dari pelanggan. Strategi shift dalam bisnis juga dapat menjadi penyebab pergantian ini.

Pergantian fungsional seringkali dilihat sebagai kesempatan bagi perusahaan untuk meningkatkan kinerja tim mereka. Namun, perusahaan juga harus memastikan bahwa mereka memiliki proses perekrutan yang efektif untuk mengisi posisi tersebut dengan karyawan yang lebih kompeten.

4. Dysfunctional Turnover

Dysfunctional turnover adalah jenis pergantian yang paling merepotkan. Terjadi ketika seorang karyawan yang memiliki kinerja tinggi pergi meninggalkan perusahaan Anda. Mereka dapat dikategorikan pula sebagai pergantian sukarela atau tidak, tergantung pada situasi yang ada. Pergantian ini dapat menimbulkan masalah karena perusahaan kehilangan karyawan yang berkinerja tinggi.

Beberapa alasan umum terjadinya pergantian disfungsional termasuk:

  • Tawaran Pekerjaan Lain yang Lebih Baik: Karyawan yang berkinerja tinggi mungkin mendapatkan tawaran pekerjaan yang lebih baik dari perusahaan lain.
  • Ketidakpuasan: Karyawan mungkin merasa tidak puas dengan manfaat atau penghargaan yang mereka terima dari perusahaan saat ini.
  • Konflik dengan Atasan: Konflik dengan atasan atau perubahan dalam manajemen bisa menjadi faktor pemicu.

Pergantian disfungsional dapat merugikan perusahaan karena kehilangan karyawan berkinerja tinggi dapat mengurangi produktivitas dan mengganggu kontinuitas bisnis.

See also  Jabatan dalam Divisi HRD, Apa Saja?

Penyebab dan Pengelolaan Employee Turnover

Setiap jenis employee turnover memiliki penyebab yang berbeda-beda, dan perusahaan harus mengambil tindakan yang sesuai untuk mengelolanya. Beberapa langkah yang dapat diambil oleh perusahaan untuk mengelola turnover termasuk:

  • Analisis Penyebab: Identifikasi penyebab turnover melalui wawancara exit, survei karyawan, atau analisis data performa.
  • Perbaiki Kebijakan Perusahaan: Jika penyebab turnover adalah masalah internal seperti kebijakan yang tidak memadai atau budaya perusahaan yang buruk, maka perusahaan harus memperbaikinya.
  • Pengembangan Karyawan: Berinvestasi dalam pengembangan karyawan dapat meningkatkan kepuasan dan kinerja mereka.
  • Peningkatan Proses Perekrutan: Pastikan proses perekrutan efektif untuk menarik karyawan yang sesuai dengan perusahaan.
  • Komunikasi dan Keterlibatan: Tingkatkan komunikasi dan keterlibatan karyawan untuk meningkatkan kepuasan dan retensi.
  • Pemberian Umpan Balik: Berikan umpan balik reguler kepada karyawan dan perbaiki berdasarkan umpan balik tersebut.

Kesimpulan

Employee turnover adalah masalah yang umum di dunia bisnis, dan setiap jenis turnover memiliki implikasi dan penyebab yang berbeda. Dalam mengelola turnover, penting bagi perusahaan untuk memahami penyebabnya dan mengambil tindakan yang sesuai untuk mengatasi masalah tersebut. Dengan manajemen yang baik, perusahaan dapat mencapai stabilitas SDM dan meminimalkan dampak negatif dari employee turnover.

****
Subscribe, follow @dramatizencom dan ikuti terus dramatizen.com untuk berbagai inspirasi terbaru dan agar hari harimu makin seru!